Sunday, March 15, 2015

Revitalisasi Teluk Benoa untuk Masa Depan



Sebagai destinasi wisata dunia, Bali tak hanya menjadi target kunjungan para turis mancanegara. Pulau yang hanya seluas 5.632,86 km2 juga menjadi incaran para investor, baik dari dalam maupun dari luar negeri. Terbaru, sebuah perusahaan swasta berencana membangun beberapa pulau baru di sisi selatan Bali untuk dijadikan kawasan pariwisata terpadu.
Kajian akademis atas rencana pembangunan pulau baru itu rupanya sudah dilaksanakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Udayana atas permintaan PT. Tirta Wahana Bali Internasional, perusahaan yang bakal mengembangkan proyek itu.
Dalam dokumen setebal 73 halaman, berjudul Rencana Pemanfaatan dan Pengembangan Kawasan Perairan Teluk Benoa Bali, terungkap bahwa reklamasi rencananya dilakukan di kawasan Teluk Benoa, tepatnya di perairan yang tak jauh dari Tanjung Benoa. Reklamasi dimulai dari perluasan Pulau Pudut, sebuah pulau kecil yang hanya seluas beberapa are dekat Tanjung Benoa.
Titik rencana pembangunan itu tidak jauh dari lokasi penanaman mangrove oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Cristiano Ronaldo pekan lalu. Ironisnya, kawasan Teluk Benoa meupakan satu-satunya benteng yang secara alamiah berfungsi melindungi wilayah Bali selatan dari berbagai bencana seperti banjir, tsunami, dan lainnya. Teluk Benoa juga merupakan muara dari sejumlah sungai besar yang terbentang di pulau Bali, seperti Tukad Badung dan Tukad Mati.
PT Tirta Wahana Bali Internasional merupakan perusahaan yang satu grup dengan beberapa perusahaan pengelola Discovery Kartika Plaza hotel dan Discovery Shopping Mall di Kuta Bali serta Hotel Borobudur di Jakarta serta pemilik sejumlah gedung, termasuk Gedung Bursa Efek Indonesia. Dalam dokumen kajian akademik tersebut, terungkap bahwa PT. Tirta Wahana Bali Internasional akan membangun sebuah kawasan wisata terpadu yang dilengkapi tempat ibadah untuk lima agama, taman budaya, taman rekreasi sekelas Disney Land, rumah sakit internasional, perguruan tinggi, perumahan marina yang masing-masing dilengkapi dermaga yacht pribadi, perumahan pinggir pantai, apartemen, hotel, areal komersial, hall multifungsi, dan lapangan golf. Luasan reklamasi diperkirakan mencapai total sekitar 400 sampai 600 hektar.
Pulau baru itu pun direncanakan dapat diakses langsung dari jalan toll di atas perairan yang baru saja rampung. Belakangan diketahui, jalan di atas perairan yang menghubungkan Pelabuhan Benoa-Bandara Ngurah Rai-Nusa Dua itu sudah dilengkapi taper (semacam lintasan untuk penambahan jalan) yang posisinya tepat mengarah ke Tanjung Benoa.
Dalam kesimpulan hasil kajian tersebut, disebutkan bahwa pada prinsipnya rencana pemanfaatan Teluk Benoa itu bisa diteruskan. Disebutkan bahwa dari aspek teknis, reklamasi Teluk Benoa akan bisa mengurangi dampak bencana alam tsunami, kerusakan fisik pantai (erosi dan abrasi), menambah sarana di wilayah pesisir dan pulau pulau kecil (WP3K) serta mengurangi kemacetan di Bali Selatan.
Dari aspek lingkungan, reklamasi dinyatakan akan bisa mengurangi kerusakan ekosistem pesisir (mangrove dan padang lamun). “Reklamasi Teluk Benoa dapat dilakukan tanpa merusak lingkungan. Bahkan sebaliknya, reklamasi dapat dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas lingkungan dalam hal ini kualitas air laut dan udara di Tanjung Benoa,” tertulis dalam kesimpulan kajian itu.
Dari aspek sosial budaya, pengembangan kawasan reklamasi diklaim akan bisa melestarikan nilai nilai budaya Bali dan pemberdayaan adat setempat.
Gubernur Bali Made Mangku Pastika ketika dikonfirmasi pada Sabtu pekan lalu, mengakui adanya rencana pembangunan pulau baru itu. Meski demikian, Pastika masih enggan bersikap, meski sejumlah lembaga swadaya masyarakat mendesak agar Pastika tegas menolak rencana reklamasi tersebut.
“Dengar dulu apa yang mau dibuat. Jangan serta merta menolak. Mari kita dengar dulu mereka, mau bikin apa. Kalau ternyata bagus, menguntungkan Bali, tidak merusak Bali, tetap menjaga adat istiadat budaya alam Bali, bisa memberi kesejahteraan kepada kita, kenapa tidak? Tapi kalau jelas jelas akan merusak alam Bali, merusak budaya, merugikan kita, ya harus ditolak,” kata Pastika.
“Lebih baik kita jangan serta merta, kalau dengar apa, langsung tolak. Mari kita dengarkan dulu. Orang nanti alergi mau datang ke Bali. Kita memerlukan lho, orang yang mau investasi di Bali. Apakah itu orang Bali, apakah itu orang Indonesia, atau pihak asing sepanjang tidak merusak alam Bali, tidak merusak adat istiadat budaya kita dan tidak merusak nama Bali di dunia, dan tidak melanggar hukum,” Pastika menambahkan.
Pastika menyatakan pihaknya akan membuka ruang berdiskusi yang melibatkan akademisi, tokoh adat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat lainnya sebelum memutuskan menolak atau mengizinkan reklamasi. “Kalau mereka ingin menyelamatkan Bali, kenapa tidak? Sekarang ini ada global warming lho, air laut naik. Kalau misalnya orang nanam mangrove bagus, jadi beltnya Bali, kenapa tidak boleh? Janganlah kita terus apriori. Saya rasa sudah waktunya kita untuk berdiskusi, berdialog. Jangan terus apa-apa, tolak. Itu gak baik,” kata dia.
Pastika membantah pihaknya tidak peduli pada kondisi alam Bali.”Saya gubernur, tentu tidak mau Bali dirusak. Saya yang tanggung jawab,” kata dia.
Pastika justru menilai reklamasi dapat menjadi solusi untuk menekan konversi lahan pertanian menjadi sarana pariwisata seperti terjadi selama ini. “Misalnya, daripada pakai sawah, kenapa nggak kita tambah luas pulau kita. Singapura bikin begitu kok. Hongkong bikin begitu. Singapura itu makin hari makin gede lho. Apa rusak? enggak,” kata dia.

Wednesday, March 11, 2015

Tokoh Adat Gelar Sembahyang Dukung Revitalisasi

INILAHCOM, Jakarta - Tokoh masyarakat dan ketua adat se-Bali, Kamis (5/3) kemarin menggelar sembahyang di lima Pura demi mendukung Revitalisasi Teluk Benoa. Hal itu dilakukan dalam rangka memohon petunjuk pada yang maha kuasa agar rencana revitalisasi diberi kemudahan.

"Sebanyak 120 orang perwakilan tokoh adat dari seluruh daerah di Bali, dari Jemprana, Tabanan, Gianyar, Karang Asem, Singaraja dan lain-lain sembahyang kepada Tuhan di 5 Pura. Kami meminta kepada Tuhan agar Revitalisasi Teluk Benoa segera terrealisasi," ujar Tokoh masyarakat Tanjung Benoa, Kabupaten Badung, Ranten saat dihubungi, Jumat (6/3/2015).

Menurutnya, meski pembangunan tersebut sudah direncanakan, namun hal itu tetap harus petunjuk sang pencipta. Sehingga dilakukan sembahyang diharapkan agar pemerintah tidak lagi menunda-nunda realisasi revitalisasi Teluk Benoa.

"Segera saja laksanakan lewat PT Tirta Wahana Bali Internasional (TWBI) biar cepat selesai, masak sudah dua tahun ini belum juga dimulai," katanya.

Ranten mengatakan, ia bersama 3 juta masyarakat Bali mengaku siap mengawal dan menjamin keamanan pelaksanaan proyek Revitalisasi Teluk Benoa.

"Pemerintah tidak perlu khawatir dengan aksi demo segelintir masyarakat yang menolak. Demo itu sudah lewat, masak orang demo cuma 4 orang," katanya.

Tokoh masyarakat Bali lainnya, Made Derik mengatakan, Revitalisasi Teluk Benoa merupakan program yang bagus. Bukan hanya bagi masyarakat Bali saat ini, tapi juga generasi mendatang.

"Bukan hanya bagi kita sekarang ini manfaatnya, tapi juga anak cucu kita nanti. Secara langsung akan membuka lapangan kerja baru dan penyerapan tenaga kerja masyarakat Bali," katanya.

Made mengaku, anggotanya yang tersebar disemua kabupaten di Bali hingga sekarang turun langsung ke lapangan. Mereka terus mensosialisasikan rencana revitalisasi tersebut.

Sebelumnya, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 51/2014 yang membolehkan dilakukan revitalisasi di Teluk Benoa. Dari luas perairan Teluk Benoa yang seluas +/- 1400 hektare, area yang akan direklamasi seluas 700 hektare (50 persen), dan hanya 400 hektare (28,5 persen) yang akan dikembangkan sebagai pusat-pusat wisata yang baru.

Sisanya seluas 300 hektare beserta peraira Teluk Benoa akan didedikasikan untuk ruang terbuka hijau dan fasilitas sosial serta fasilitas umum (fasos fasum). Studi kelayakan bersama yang dilakukan IPB, ITB, UGM, ITS dan Unhas juga menghasilkan kesimpulan, kawasan Teluk Benoa dapat direvitalisasi.[ris]

REVITALISASI TELUK BENOA


oleh: Wayan Wiratmaja

Dalam kisah Ramayana yang salah satu merupakan bagian dari VEDA kitab suci agama Hindu ( Ithiasa ) sudah gamblang dan jelas memberikan lampu hijau bagi umat manusia melakukan REKLAMASI untuk sebuah tujuan mulia, apalagi untuk kemaslahatan orang banyak, jangan hanya menonton dan menggonggong sebaiknya semeton Bali ikut terlibat dalam Perencanaan, Pengawasan dan sebagai Kontrol, agar apa yang Rekomendasikan oleh DPRD Bali periode 2009-2014, sudah melahirkan SK Gubernur kemudian Peraturan Mentri Kelautan dan terakhir Perpres 51 Tahun 2014, agar berjalan sesuai perencanaan nantinya dapat bermanfaat guna bagi anak cucu Bali dan Indonesia kedepannya .

Saya sangat menghormati semua pendapat yang berkembang, dan sebagai Warga Negara yang baik sebaiknya mempertimbangkannya secara bijak, termasuk mengkaji secara komprehensif bersama pihak-pihak terkait, seperti DPRD dan para pakar di bidangnya, serta melalui kajian-kajian lainnya yang ilmiah dan obyektif.

Sebagai contoh,  setiap tahunnya lulusan perguruan tinggi negeri dan swasta lainnya di Bali yang berjumlah sekitar 40 buah, yang meluluskan mahasiswanya ribuan orang setiap tahun, bahkan ada perguruan tinggi yang melaksanakan wisuda dua sampai tiga kali dalam setahun. Dapat dihitung berapa lulusan perguruan tinggi yang berpotensi menganggur bertambah setiap tahun. Demikian pula lulusan SMA/SMK yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi, mereka adalah angkatan mendapatkan pekerjaan. Semoga TWBI dapat memberikan solusi kedepannya kerja potensial yang belum tentu semuanya

Revitalisasi Teluk Benoa Untungkan Perekonomian Rakyat

Revitalisasi Tanjung dan Teluk Benoa, Bali, yang terdiri 1.400 hektare perairan dan 1.400 hektare hutan mangrove, ditujukan untuk memperbaiki lingkungan dan kehidupan ekonomi serta sosial budaya masyarakat setempat, kata pengembang kawasan itu. 

Komisaris PT Tirta Wahana Bali Internasional (TWBI) Leemarvin Lieano di Jakarta, Senin, memastikan revitalisasi Teluk Benoa bertujuan memperbaiki lingkungan dan meningkatkan kehidupan ekonomi, sosial, budaya, dan agama masyarakat Bali, bukan membuat masalah baru sebagaimana diprotes pihak-pihak tertentu. (Baca : Teluk Benoa Hancur, Perlu Di Revitalisasi)
Dengan berhasil di revitalisasi tanjung dan teluk Benoa nanti sudah pasti akan menyedot banyak perhatian wisatawan asing. Dengan begitu perekonomian warga Benoa secara tidak langsung akan kembali menggeliat dengan banyaknya turis berkunjung di teluk dan tanjung benoa.

“Proyek-proyek besar dalam sejarah selalu ditentang sekelompok orang pada mulanya tetapi kemudian menjadi berkah pada akhirnya” ujar Leemarvin Lieano Komisaris PT Tirta Wahana Bali Internasional (TWBI).

Teluk Benoa Hancur, Perlu Di Revitalisasi

Saat ini warga Bali sedang diresahkan dengan adanya pendangkalan diperairan teluk benoa akibat banyaknya bangunan yang didirikan secara asal. Kekhawatiran warga Bali cukup beralasan, karena sejak berdirinya tol Mandara diatas perairan Teluk Benoa wilayah hutan konservasi mangrove menjadi rusak.

Tampak sisa-sisa material bekas pembangunan tol Mandara yang berada tidak jauh dari wilayah konservasi terlihat jelas saat air laut surut. Selain itu pendangkalan yang terjadi di sekitar wilayah konservasi juga telah merubah arus laut sehingga merusak ekosistem bawah laut.

Melihat hal ini sejumlah tokoh masyarakat adat Bali mendesak pemerintah setempat untuk segera melakukan revitalisasi agar wilayah konservasi hutan mangrove kembali berfungsi seperti sedia kala.

Pertanyaan dalam konteks Teknis

Jika terjadi hujan selama 4 jam, maka ketinggian air akan naik 0,4 m di Teluk Benoa, sehingga ketika Teluk Benoa telah direklamasi maka akan menyebabkan banjir? Contoh kasus di Jakarta dan Manado?

Curah hujan di Denpasar relatif kecil 3- 13 mm/bulan. Curah hujan tersebut akan mengalir ke dalam sungai dan menuju Teluk Benoa. Konsep air hujan yang masuk ke teluk juga akan mengikuti proses aliran air alami. Air yang akan masuk tidak diam tetapi bergerak mengikuti pasang surut, sehingga adapun ketinggian air tidak akan mencapai 0,4 m. Di sisi lain, dengan adanya pendalaman alur yang telah dirancang sesuai dengan hasil study, justru tidak akan menciptakan banjir.

Apakah harus dilakukan reklamasi di Teluk Benoa?

Iya, dikarenakan di dalam konsep revitalisasi, disebutkan bahwa yang akan diperbaiki adalah endapan lumpur dan masalah sampah yang selama ini bermuara ke Teluk Benoa dari beberapa DAS yang terdapat di Teluk. Untuk itu, ketika pengerukan berlangsung guna mengurangi endapan lumpur/sedimentasi di Teluk hasil pengerukan tadi dapat dimanfaatkan untuk secara ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat pesisir dengan dibuat sesuatu yang memiliki nilai ekonomis. Sehingga material tersebut digunakan untuk memuat pulau-pulau, di samping diperlukannya tempat untuk menampung hasil dari pengerukan sedimentasi tersebut. Sehingga ini menjadi satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Dengan adanya pulau-pulau hasil reklamasi, akan ada penyempurnaan alur air dan kanal-kanal air untuk menjaga kualitas air di teluk nantinya.

Dengan adanya Pulau, bukankah ini akan menambah sedimentasi di Teluk?

Tidak benar, karena pulau dan sedimentasi berbeda. Karena, tanpa ada reklamasi pun sedimentasi akan terus berlanjut dan pada akhirnya membentuk pulau sendiri yang akhirnya dapat menyebabkan mangrove akan mati. Bedanya dengan pulau reklamasi adalah, akan dibentuk kanal-kanal untuk aliran air bagi mangrove.

Apakah dengan adanya Pulau merupakan sarana mitigasi dari bencana Tsunami?

Bukan, Pulau yang nantinya terbentuk bukanlah merupakan sarana evakuasi atau mitigasi dari bencana tsunami. Simulasi tsunami datang dari arah dan jika dengan kecepatan tertentu tetap akan sampai ke pulau.

Berapa kubik sedimentasi yang terjadi di Teluk Benoa, sehingga dapat dikategorikan parah dan mengancam ekosistem mangrove di sekitarnya?

Luasan perairan benoa sebesar 1400 m, sedangkan berdasarkan hasil kajian hampir seluruh permukaan teluk mengalami sedimentasi yakni seluas 1100m. Penumpukan sedimentasi akan bertambah tiap tahunnya, jika ini dibiarkan dalam beberapa tahun ke depan tanpa adanya revitalisasi maka yang terjadi adalah pengerasan endapan lumpur tersebut yang menghalangi alur air laut untuk sampai ke mangrove, sehingga eksositem mangrove terancam punah diakibatkan tidak terdapatnya asupan air.

Apakah alur alami akan dikeruk selama proses revitalisasi berlangsung?

Berdasarkan hasil studi yang dikeruk adalah alur alami dan alur lainnya yang membutuhkan pendalaman alur.

Apakah dengan adanya reklamasi akan menyebabkan abrasi di wilayah pesisir?

Salah satu penyebab adanya abrasi adalah jika arus/gelombang besar langsung menghantam daratan, sedangkan kondisi di teluk berbeda karena pintu masuk air dari laut kecil sehingga arusnya cenderung tenang, dan dengan ekosistem mangrove yang terawat akan mencegah abrasi di kawasan pesisir. Di sisi lain wilayah pesisir yang berdekatan dengan mangrove tidak akan dikeruk.

Apakaah sumber material yang akan digunakan untuk reklamasi akan membahayakan lingkungan di sekitar pengambilan sumber material tersebut?

Pengambilan sumber material berupa batu dan pasir tentunya akan dilakukan dengan cara-cara yang aman bagi lingkungan sesuai dengan prosedur hukum yang berlaku. Contohnya, mengacu pada peraturan pemerintah No 23 Tahun 2010 tentang pelaksanaan kegiatan usaha pertambangan. Di samping itu, proses penambangan juga harus terlebih dahulu mendapat izin lingkungan (amdal). Tentunya jika semua prosedur telah dilaksanakan, dan dalam pengawasan yang benar oleh pihak2 terkait maka dapat meminimalisasi pelanggaran-pelanggaran tersebut.

Terkait sumber material di wilayah Sawangan, hal ini telah sebelumnya dimanfaatkan untuk kegiatan reklamasi pantai di sanur, nusa dua dan pantai kuta. Untuk wilayah Lombok dan Karangasem, pengambilan pasir laut akan disesuaikan dengan rencana tata ruang daerah dan pada prosesnya nanti akan berjalan sesuai dengan aturan dan pengawasan badan lingkungan hidup kabupaten maupun KLH.

Rencana reklamasi akan mengubah alur alami laut?

Tidak, tetapi alur tersebut akan ditata dan bentuk-bentuk pulau reklamasi nantinya akan mengikuti alur alami tersebut.

Teluk benoa merupakan muara bagi beberapa daerah aliran sungai (DAS), jika teluk benoa direklamasi ke manakah air akan berakhir?

Perlu ditekankan bahwa reklamasi yang dilakukan di Teluk Benoa tidak lebih dari < 700 ha, (terdiri dari beberapa pulau, bukan satu pulau) dan luas Teluk benoa secara keseluruhan termasuk perairan dan Tahura adalah 3200 ha. Oleh sebab itu, perairan dan kanal-kanal air masih dipertahankan, ketika air masuk kedalam teluk akan mengalir secara alami dan mengikuti fase pasang surut. Air yang masuk ke Teluk Benoa tidak akan diam, tetapi mengikuti pergerakan aliran arus. Kegiatan reklamasi akan mempertahankan alur alami laut yang ada di Teluk Benoa.

Apakah kondisi pasang surut akan tetap ada, walaupun setelah direklamasi?

Kondisi pasang surut akan tetap ada setelah direklamasi, namun kondisi surut terendah tidak lagi pada titik 0, tetapi akan berada pada titik 2,5 m sedangkan kondisi pada saat pasang tertinggi adalah 3m.

Reklamasi dengan membuat pulau baru akan menimbulkan kerentanan terhadapa bencana, baik tsunami maupun likuifaksi (hilangnya kekuatan lapisan tanah akibat adanya faktor getaran, mislanya gempa bumi). Pulau Baru akan lebih labil dan memperpadat lokasi, hal yang justru bertentangan dengan prinsip adaptasi terhadap Bencana?

Liquifaksi akan terjadi berdasarkan pada tingkat gradasi ukuran butiran tanah dan tegangan / stress yang terjadi (beban gempa) dibandingkan dengan kekuatan tanah asli.

Hasil penyelidikan tanah di Teluk Benoa secara umum adalah pasir dengan kandungan lanau, lempung, dan kerikil.

Review studi terhadap potensi liquifaksi di Teluk Benoa menggunakan data gempa tahun 2012, menunjukkan bahwa semua zona tanah di Teluk Benoa sulit mengalami potensi liquifaksi. Hanya ada satu titik yang bisa terjadi potensi liquifaksi yaitu pada lokasi dekat dengan pulau pudut. Tetapi hal ini dapat diatasi dengan perbaikan tanah. Misalnya dengan cara pemadatan tanah dasar, lebih tidak jenuh air, menambahkan tanah lanau dan lempung lebih banyak, dan stabilisasi kimia lainnya.

Sunday, March 8, 2015

Manfaat Reklamasi bagi Bali

Manfaat Reklamasi bagi Bali


 15 Aug 2014   0 Comment


Oleh Made Nariana
PRO –kontra reklamasi terus berlangsung di Bali, khususnya terkait dengan rencana pembangunan di Teluk Benoa. Ada usaha terstruktur, sistematis dan massif (TSM) – mengarahkan masyarakat supaya menolak reklamasi. Padahal tidak semua masyarakat memahami, apa dan bagaimana manfaat  reklamasi.
Selama ini masyarakat dijejali dengan informasi bahwa reklamasi itu jelek, buruk tidak menguntungkan. Oleh karena itu harus ditolak! Mereka hanya ikut-ikutan, atas dasar kepentingan pribadi penuh dengan perasaan cemburu, sentimen dan sakit hati. Jangan-jangan juga karena ada yang mensponsori. Sebab saya tahu, sebelumnya ada beberapa perusahaan yang ingin melakukan reklamasi di Teluk Benoa.
Informasi lain yang patut dipercaya juga mengatakan bahwa ide reklamasi Teluk Benoa  sudah dikonsep sejak lama. Sejak PDIP sendiri berkuasa di zaman Ibu Megawati Soerkarno Putri, dengan dukungan elite PDIP Bali saat itu. Pertimbangannya, tentu karena idenya baik dan membawa manfaat bagi masyarakat luas.
Manfaat Reklamasi
Reklamasi pantai sebagai alternatif pemenuhan kebutuhan lahan perkotaan menjadi kemutlakan karena semakin sempitnya wilayah daratan. Kebutuhan dan manfaat reklamasi dapat dilihat dari aspek tata guna lahan, aspek pengelolaan pantai dan ekonomi. Tata ruang suatu wilayah tertentu kadang membutuhkan untuk direklamasi agar dapat berdaya dan hasil guna.
Untuk pantai yang diorientasikan bagi pelabuhan, industri, wisata atau pemukiman yang perairan pantainya dangkal wajib untuk direklamasi agar bisa dimanfaatkan. Teluk Benoa termasuk kawasan yang mengalami pemdangkalan.
Terlebih kalau di area pelabuhan, reklamasi menjadi kebutuhan mutlak untuk pengembangan fasilitas pelabuhan, tempat bersandar kapal, pelabuhan peti-peti kontainer, pergudangan dan sebagainya. Dalam perkembangannya pelabuhan ekspor – impor saat ini menjadi area yang sangat luas dan berkembangnya industri karena pabrik, moda angkutan, pergudangan yang memiliki pangsa ekspor – impor lebih memilih tempat yang berada di lokasi pelabuhan karena sangat ekonomis dan mampu memotong biaya transportasi.
Aspek perekonomian adalah kebutuhan lahan akan pemukiman, semakin mahalnya daratan dan menipisnya daya dukung lingkungan di darat menjadikan reklamasi sebagai pilihan bagi negara maju atau kota metropolitan dalam memperluas lahannya guna memenuhi kebutuhan akan pemukiman. Fungsi lain adalah mengurangi kepadatan yang menumpuk di kota dan meciptakan wilayah yang bebas dari penggusuran karena berada di wilayah yang sudah disediakan oleh pemerintah dan pengembang, tidak berada di  bantaran sungai maupun sempadan pantai. Aspek konservasi wilayah pantai, pada kasus tertentu di kawasan pantai karena perubahan pola arus air laut mengalami abrasi, akresi sehingga memerlukan pembuatan Groin (pemecah ombak) atau dinding laut sebagai mana yang dilakukan di daerah Ngebruk Mankang Kulon. Reklamasi dilakukan di wilayah pantai ini guna untuk mengembalikan konfigurasi pantai yang terkena abrasi kebentuk semula.
Sebagaimana saya kutip dari laman  internet, perencanaan dan studi harus mendalam perihal Pekerjaan Reklamasi seperti: (Indonesia Water Institute. 2012)
1.    Pengendalian Dampak Negatif Lingkungan – Campur tangan manusia terhadap alam akan berimbas kepada ekosistem yang ada di laut sebelumnya, maka perlu dilakukannya pencegahan dampak meluas akibat reklamasi ini. Salah satu contoh: ketika Reklamasi Pantai Indah Kapuk selesai, maka persoalan muncul, ketika jalan Tol  Sedyatmo (Tol Bandara) mengalami banjir beberapa pendapat dikarenakan limpasan dari area Pantai Indah Kapuk.
2.    Supply Air dan Energy – Air dan Energy akan dibutuhkan di daerah pengembangan termasuk juga di daerah rekalamasi, dari sini perencana harus memperhitungkan betul dari mana sumber energy dan listrik. Contoh kasus : bandara Kansai, Jepang, menggunakan Energi Listrik dari Angin untuk memenuhi kebutuhan listrik.
3.    Transportasi yang Terintegrasi – Pengembangan daerah akan berdampak pada arus transportasi di daerah akan meningkat, maka daerah utama dan daerah reklamasi harus diperhitungkan arus transportasi agar menghindari kemacetan karena tidak adanya integrasi dari daerah reklamasi dan daerah utama (daerah asli) . Contoh : Reklamasi di Incheon sebagai Bandara Internasional Korea Selatan, di bangun 3 moda transportasi yaitu, Jalan raya, Kereta, dan Subway untuk menghindari stagnan arus transportasi.
4.    Tata Ruang dan Wilayah – Hal ini tidak terlepas dari awal perencanaan dari Reklamasi. Lahan hasil reklamasi akan digunakan sesuai kebutuhan maka master plan tata ruang dan wilayah harus benar- benar dikerjakan dan diawasi pelaksanaannya. Hal ini menghindari penyebaran daerah kumuh / tak tertata dari sebuah kawasan.
5.    Struktur Lapisan Tanah Reklamasi – Hal ini merupakan syarat utama dari ketahanan struktur. Kekuatan lahan reklamasi terhadap abrasi dan beban bangunan di atasnya harus diperhitungkan agar tidak terjadi kerugian yang besar.
Pengalaman Bali
Bali sendiri sudah banyak melakukan reklamasi. Pembangunan Bandara Ngurah Rai, pembangunan pelabuhan Benoa sendiri adalah buah hasil reklamasi. Sejumlah pantai di Bali, apakah Bali Selatan dan Bali Utara juga banyak reklamasi. Kalau tidak demikian, pulau Bali sudah semakin mengecil digerus ombak yang semakin ganas.
Lalu mengapa sekarang orang ribut soal reklamasi Teluk Benoa? Saya melihat hanya persoalan rezeki.  Karena hujan tidak merata, muncul beberapa persoalan antara lain:  Pertama; ada sejumlah perusahaan ingin melakukan hal yang sama, sehingga yang tidak mendapat berusaha menghalangi (malah balik menolak reklamasi). Kedua; ada pihak-pihak yang ingin terlibat sebagai bagian yang terkait dalam proyek itu. Karena tidak terakomodasi berusaha memprovokasi orang lain supaya menolaknya. Ketiga; hanya sekadar ingin menggagalkan ide orang lain yang membuat Bali lebih maju secara ekonomi, lebih bersih, rapi dan cantik khususnya ditinjau dari segi pariwisata.
Hanya dengan alasan akan merusak Bali, tidak sesuai dengan adat budaya, kekhawatiran yang berlebihan, tidak mau memandang jauh ke depan – mereka menolak reklamasi Teluk Benoa. Belum ada sejarah yang mencatat, sebuah pulau tenggelam di dunia karena reklamasi.
Belanda, Singapura, Jepang, Malaysia, Australia, Dubai (Dunia Arab),  termasuk Jakarta melakukan reklamasi guna menambah obyek wisata yang menarik. Semua tanpa masalah.
Sejarah juga mencatat, pembangunan Bandara Ngurah Rai, pembangunan jalan tol di atas perairan, pembangunan underpass di Dewa Ruci Kuta, pembangunan GWK di Jimbaran, awalnya juga ditolak sejumlah LSM. Namun sekarang, malah kita bangga-banggakan sebagai  obyek, sarana/prasarana pariwisata yang menarik bagi Bali. Malu kan? (narianabali1@gmail.com, wartawan dan mantan Ketua PWI Bali)